Di antaranya: Tong Tji yang mengusung konsep Tea House

Dulu saya pernah bertanya-tanya (tapi sayangnya dulu belom ada Google dan Quora), kenapa sih gerai-gerai makanan di mal tuh cuman ada brand asing atau brand lokal yang di-branding secara asing?

Misal KFC, McD, Pizza Hut, Hoka-Hoka Bento (sebelum kini di-rebrand sebagai Hokben), AW, dan masih banyak lagi brand-brand F&B bernuansa asing di pusat perbelanjaan yang mewarnai masa kecil dan remaja saya.

Saya gak nemu brand lokal.

Kenapa gak ada ayam goreng Mbok Berek?

Kenapa gak ada Rumah Makan Ampera?

Kenapa gak ada Bakmi AL?

Tapi.. sekarang udah berubah.

Brand lokal dan brand yang tumbuh dari tradisi seperti Tong Tji, mulai…


Ole Gunnar Solskjaer

Ketika Beckham dan Giggs nyaris frustrasi sebab bertubi-tubi umpan keduanya dengan mudah dimentahkan Lothar Matthäus dan kawan-kawan, nyatanya Manchester United cukup membutuhkan sosok Ole Gunnar Solskjaer untuk dapat mengangkat trofi Liga Champions kedua kalinya pada 1999 setelah lama berpuasa sejak George Best mempersembahkan trofi perdana pada 1968. Supersub, demikian media kerap menjuluki pemain macam demikian. Biasanya, bangku dingin cadangan selalu dihangati oleh mereka. Mereka baru menginjak rumput lapangan ketika stamina dan mental pemain inti sudah centang-perenang. Cukup bermain 10 menit lebih sedikit oleh injury time sudahlah hebat dan membuat mereka bersyukur dapat merumput malam itu untuk sedikit menambah jam terbang…


2010–2021

Sebelas Tahun Kesunyian

Pernah gak sih kamu merasa insecure ngeliat dirimu sendiri terlebih jika kamu bandingkannya dengan orang lain?

“Pencapaian hidup gua kok gini-gini aja? Sialnya, rumput tetangga selalu lebih hijau.”

Siang kemarin saya kembali tercerahkan oleh Mas Fellexandro Ruby melalui speech-nya di TEDxYouth dengan tema “Why Passion is Not Enough?”

Yang bikin kepala saya “pecah”, doi pun membagikan peta hidup a.k.a. life journey Mas Ruby selama 10 tahun (yang saya modifikasi sedikit pada gambar postingan ini menjadi 11 tahun) yang ternyata meskipun kesannya random, menurutnya, justru saling berkelindan satu sama lain.

Ala-ala Steve Jobs, barusan saya pun ikutan coba untuk connect the…


MIKEL Comic

Sebagaimana ekspresi lepas sohib “ngeronda” saya: MIKEL, pada gambar di atas melengkapi postingan kali ini, jujur, baru kali ini saya excited menyambut Ramadan (di KBBI yang betul “Ramadan”, tapi umumnya sih ditulis “Ramadhan”, tapi gapapa deh, manut KBBI aja). Dari kecil, saya selalu saja mengeluh menghadapi Ramadan. Mengeluh bakal kehausan. Males harus gerak ke mana-mana. Males kudu kuliah subuh berburu tanda tangan Pak Ustaz sambil ngantuk-ngantuk abis itu langsung berangkat sekolah. Males bangun dini hari buat sahur abis itu nanggung karena setengah tujuh mesti berangkat kerja. Ah, banyak deh keogahan-keogahan lain yang muncul kala saya menyikapi Ramadan. Kemalasan yang rada…


Photo by Sahand Hoseini on Unsplash

Sepulang dari kerja praktik hari terakhir sore kemarin, saya langsung pulang, padahal ada piutang pertemuan satu mata kuliah, namun saya memutuskan untuk skip saja. Badan pegel-pegel, kepala pusing, otak semrawut mikirin hal-hal yang gak semestinya dipikirin.

Karena bosan melewati Cibinong, saya pilih melalui Sentul dan selanjutnya menembus jalan Kandang Roda. Selain bosan, alasan saya memilih jalan lain adalah menghindari kemacetan yang bengkak sepanjang Cibinong. Namun ternyata saya keliru. Sentul juga macet.

Dengan seliweran motor dan truk sebagai sekadar bumbu, antrean mobil pribadi mengular sekitar satu kilometer sebelum persimpangan Sirkuit Sentul. Di sana memang terdapat empat gerbang tol yang otomatis setiap…


MIKEL Starter Pack; Komik Strip Bapak-Ibu Amatir

MIKEL Comic is a Comic Strip for Young-Adult who trying to be the Best Parents but it’s so tough. The background story why I create this comic strip, kindly go to this blog link: https://cepy.medium.com/membuat-komik-5cc355215d3c

1. Rambut Rancung


Bekerjalah hingga perasan karsa terakhir.

Photo by Elena Koycheva on Unsplash

Bekerja atau berbisnis itu menurut saya idealnya cukup berfokus pada ranah yang kita kuasain ampe ngelotok, sampai kita rela dan kita tidak merasa bermasalah jika keahlian kita dieksploitasi orang lain hingga perasan keringat dan karsa terakhir. Hal-hal lain yang mendistraksi fokus, abaikan saja, anggap sebagai pariwara-pariwara template layanan masyarakat yang gagal mempersuasi alam bawah sadarmu yang sudah “teteg”.

Kalau enggak, saya jamin ke depannya gak bakalan bener. Kalaupun kamu merasa bener, saya jamin gak bakal sustain. …


Passion bukan tujuan akhir berupa taman bunga impian.

Do Your Boring Stuff (@made.by.cepy)

Mulai dari pidato Steve Jobs yang banyak ditukil dan seringkali keliru ditafsirkan itu, hingga buku-buku self-help book (yang juga konon terinspirasi dari Steve Jobs) awal 2010an, konon katanya, kalo kita kepengen bahagia tiap hari dalam menjalani hari-hari, “Do what you love!” yang sering dimaknai dengan “Bekerjalah sesuai passionmu”.

Emang iya?

Padahal, passion bukan tujuan akhir berupa taman bunga impian. Passion hanyalah kendaraan menuju tujuan yang kita semua tak tahu kapan, di mana, bagaimana akan bertambat.

Apakah dengan bekerja sesuai passion, lantas semua masalah hidupmu luruh berguguran? …


Photo by Ryoji Iwata on Unsplash

Kampung halaman, boleh jadi, hanya tinggal kenangan berupa rumah kosong yang ditinggalkan karena satu per satu keluarga sudah meninggal atau satu, dua, lain-lain hal. Satu-satunya yang dengan mudah dan sungguh meaningful dapat dibawa serta diaplikasikan dalam keseharian adalah wisdom; nilai-nilai luhur yang diajarkan, ditanamkan sejak kecil oleh para pendahulu kita.

Tapi untuk bisa memahami secara holistik terkait wisdom-wisdom tersebut, gak mudah. Gak bakalan kepikiran lah kayaknya sama orang-orang yang seseharinya sibuk berkarier dan berbisnis mah, terlebih di era riuh kini, era ajang joget seksi-seksian (bagi yang good looking) & ancur-ancuran (bagi yang kurang good looking) di platform Tiktok. …


Photo by Malcolm Lightbody on Unsplash

Sebagai pekarya, mungkin di antara Anda sering dipusingkan dengan jargon “Jujur dalam Berkarya”, yang biasa disuarakan oleh para penulis, pelukis, ilustrator, atau pekerja seni lain yang sudah masyhur.

Sebenarnya, maksud dari “Jujur Berkarya” ini apa? Memangnya ada karya yang “tidak jujur”?

Jika berkarya harus dilandasi oleh kejujuran, apakah mengandung pesan bahwa setiap karya yang kita ciptakan itu harus faktual; dengan mengambil inspirasi dari kehidupan dan pengalaman nyata yang kita alami?

Hasil penelusuran dunia maya, saya menemukan beberapa pandangan terkait “Jujur dalam Berkarya”. Menurut Sudjojono, maestro lukis Indonesia, seorang seniman tidak boleh berpura-pura dalam menciptakan sebuah karya. …

Cepy Hidayaturrahman

I write about design, pop culture, and lessons learned. Host of Keluar Rumah Podcast.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store