Image for post
Image for post
MIKEL Starter Pack; Komik Strip Bapak-Ibu Amatir

MIKEL Comic is a Comic Strip for Young-Adult who trying to be the Best Parents but it’s so tough. The background story why I create this comic strip, kindly go to this blog link: https://cepy.medium.com/membuat-komik-5cc355215d3c

1. Rambut Rancung


Image for post
Image for post
Photo by Elena Koycheva on Unsplash

Bekerja atau berbisnis itu menurut saya idealnya cukup berfokus pada ranah yang kita kuasain ampe ngelotok, sampai kita rela dan kita tidak merasa bermasalah jika keahlian kita dieksploitasi orang lain hingga perasan keringat dan karsa terakhir. Hal-hal lain yang mendistraksi fokus, abaikan saja, anggap sebagai pariwara-pariwara template layanan masyarakat yang gagal mempersuasi alam bawah sadarmu yang sudah “teteg”.

Kalau enggak, saya jamin ke depannya gak bakalan bener. Kalaupun kamu merasa bener, saya jamin gak bakal sustain. …


Image for post
Image for post
Do Your Boring Stuff (@made.by.cepy)

Mulai dari pidato Steve Jobs yang banyak ditukil dan seringkali keliru ditafsirkan itu, hingga buku-buku self-help book (yang juga konon terinspirasi dari Steve Jobs) awal 2010an, konon katanya, kalo kita kepengen bahagia tiap hari dalam menjalani hari-hari, “Do what you love!” yang sering dimaknai dengan “Bekerjalah sesuai passionmu”.

Emang iya?

Padahal, passion bukan tujuan akhir berupa taman bunga impian. Passion hanyalah kendaraan menuju tujuan yang kita semua tak tahu kapan, di mana, bagaimana akan bertambat.

Apakah dengan bekerja sesuai passion, lantas semua masalah hidupmu luruh berguguran? …


Image for post
Image for post
Photo by Ryoji Iwata on Unsplash

Kampung halaman, boleh jadi, hanya tinggal kenangan berupa rumah kosong yang ditinggalkan karena satu per satu keluarga sudah meninggal atau satu, dua, lain-lain hal. Satu-satunya yang dengan mudah dan sungguh meaningful dapat dibawa serta diaplikasikan dalam keseharian adalah wisdom; nilai-nilai luhur yang diajarkan, ditanamkan sejak kecil oleh para pendahulu kita.

Tapi untuk bisa memahami secara holistik terkait wisdom-wisdom tersebut, gak mudah. Gak bakalan kepikiran lah kayaknya sama orang-orang yang seseharinya sibuk berkarier dan berbisnis mah, terlebih di era riuh kini, era ajang joget seksi-seksian (bagi yang good looking) & ancur-ancuran (bagi yang kurang good looking) di platform Tiktok. …


Image for post
Image for post
Photo by Malcolm Lightbody on Unsplash

Sebagai pekarya, mungkin di antara Anda sering dipusingkan dengan jargon “Jujur dalam Berkarya”, yang biasa disuarakan oleh para penulis, pelukis, ilustrator, atau pekerja seni lain yang sudah masyhur.

Sebenarnya, maksud dari “Jujur Berkarya” ini apa? Memangnya ada karya yang “tidak jujur”?

Jika berkarya harus dilandasi oleh kejujuran, apakah mengandung pesan bahwa setiap karya yang kita ciptakan itu harus faktual; dengan mengambil inspirasi dari kehidupan dan pengalaman nyata yang kita alami?

Hasil penelusuran dunia maya, saya menemukan beberapa pandangan terkait “Jujur dalam Berkarya”. Menurut Sudjojono, maestro lukis Indonesia, seorang seniman tidak boleh berpura-pura dalam menciptakan sebuah karya. …


Image for post
Image for post
Photo by Sticker Mule on Unsplash

Genap dua bulan saya mereaktivasi akun facebook pertama saya setelah sembilan tahun dideaktivasi, dan saya menjumpai beberapa hal menarik yang semoga menarik juga untuk Anda baca di kala senggang.

Pertama, platform facebook yang selama ini konon begitu lekat dengan citra “alay” di mata kelas menengah urban, saya pikir-pikir lagi, nyatanya jauh lebih humanis dibanding platform twitter yang belakangan ini, saya akui, begitu riuh hingga kerap mendistraksi waktu-waktu produktif saya.

Humanis ini misalkan, di twitter, sebuah cuitan “seaman” mengunggah foto flatlay bekal suami untuk dibawa ke kantor saja, nyatanya bisa ditanggapi beragam balasan cuitan atau kutipan retweet yang dilayangkan dari kalangan…


Image for post
Image for post
Usia Menua Seiring Tekanan yang Mengada-ada (komik/kartun @keluarrumahproject)

Komik adalah cinta pertama saya ke dunia literasi. Pemantik rasa penasaran saya ke dunia literasi bukanlah Gabriel Garcia Marquez, Albert Camus, Yasunari Kawabata, atau Ernest Hemingway yang sudah galib jadi jawaban pencitraan ketika ditanya, “Siapa influence kamu dalam berkarya?”. Dia adalah Momoko Sakura, pencipta Chibi Maruko Chan.

Chibi Maruko Chan adalah komik atau anime Jepang yang cenderung disukai oleh perempuan. Teman-teman laki-laki saya tentu lebih suka Dragon Ball-Z, Kungfu Boy, Slam Dunk, hingga belakangan Naruto dan One Piece yang bisa dibilang maskulin.

Jujur, saya suka juga dengan komik-komik tersebut, tetapi saya merasa terganggu ketika ada orang yang fanatik dengan suatu…


Image for post
Image for post
Photo by Andre A. Xavier on Unsplash

Ulat rumput bercincin jingga merayap-rayapi kaus komprang Ayep, membuat geli yang melihatnya, membikin gatal yang dirayapinya―seandainya ia sadar bajunya sedang disapu cucuk hidup itu, dan sejejelat saja ulat itu sudah meniti lehernya. Benaknya lebih memilih tenggelam dalam renung. Ia tatap bergantian jembatan, sampan, jembatan, sampan, jembatan.

Ayep telanjur bersetia terhadap pekerjaannya. Sekali, pernah ia tergoda oleh tetangga yang mengajaknya berbisnis barang-barang bekas: dikumpulkannya aneka rongsok, ia lempar ke penadah Madura. Sayang, itu tak memikat hasratnya, padahal labanya konon menggiurkan. Selama ini ia lebih suka melayani ibu-ibu naik sampannya ke pasar di desa seberang. …


Image for post
Image for post
Photo by davisco on Unsplash

Semakin banyaknya varian mobile apps untuk mendesain “secara instan” semacam Canva, Picsart, Adobe Spark dan masih banyak varian aplikasi lainnya, sering kali rentan menimbulkan kekeliruan penafsiran bagi kalangan awam.

Saya sering mengalami, dan ternyata ada juga orang lain yang merasakan pengalaman serupa, sebagaimana terpotret oleh tangkapan layar seorang ilustrator lepas di linimasa Twitter, kurang lebih temannya bilang gini,

“Gak usah ribet-ribet, pake Canva aja. Jadi kasih harga murah, ya.”

Sampai saat ini, saya gak habis pikir. Canva kok disematin “aja”, seolah-olah kalau mendesain pakai Canva itu gampang, cetek, sehingga pantas dihargai murah bahkan mungkin seharusnya dikasih gratis saja, katanya.

Saya…


Image for post
Image for post

0–10 tahun

Hidup ini seru sekali, ya.

Aku pasti bisa.

Aku sudah bisa masak mi sendiri.

Aku ingin itu, Ma, Pa.

Aku ingin jadi Pak Habibie.

Aku ingin punya uang sejuta-juta.

11–20 tahun

Kenapa temenku jahat?

OSPEK kok gini amat, ya?

Udah boros PDKT, ditolak lagi.

#NP: Ingin Hilang Ingatan.

Sok sibuk jadi anak ekskul.

Kerja kok jadi budak gini, ya.

Update status: Yeay, keterima di PTN!

Temen pada nikah, gue kapan, ya?

21–30 tahun

Ya iyalah dia sukses, bokapnya kaya.

Negara ini maunya apa, sih?

Gue pengen pindah negara aja.

Skripsi ternyata memang shit.

Temen ya temen. …

Cepy Hidayaturrahman

Menulis tentang media sosial, desain, dan budaya pop. Desainer Grafis di linktr.ee/keluarrumah. Pengasuh Keluar Rumah Podcast; bit.ly/keluarrumah

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store