Mencuri Keresahan Adimas Immanuel dalam “Pencurian Terbesar Abad Ini”

Image for post
Image for post

Tiga tahun belakangan saya tidak pernah lagi menemukan buku yang membuat saya tersihir membacanya, kalaupun saya berhasil menghabiskan halaman demi halaman, itu bukan berkat rasa kepenasaran saya, sekadar menuntaskan tuntutan orang-orang saja yang sering merekomendasikan “Baca ini deh, bagus, relate sama millenial kayak kita-kita”.

Sejujurnya, bukan hanya buku. Saya merasa, semakin sulit menemukan musik, film, gambar, siniar, dan buah karya lain yang relate dengan kehidupan saya sehari-hari; atau mungkin tepatnya, keresahan yang terpaksa saya telan kembali bulat-bulat sehari-harinya, saking energi untuk sekadar curhat atau sambat pun sudah di titik nol sepulang kerja.

Saya menyukai buku pertama dari total sebundel berisikan 5 buku puisi & cerpen berjudul SELFIE(SH). Buku pertama itu adalah “Pencurian Terbesar Abad Ini” dari Adimas Immanuel. Selama ini, saya mengikuti karya-karya Dimas, salah satunya “Di Hadapan Rahasia”, dan saya mengagumi karya-karya penyair satu ini pada kesan pertama.

Sebelum membaca buku barunya, saya mencoba untuk tidak terlalu berharap banyak, mengosongkan kembali kekaguman saya pada karya-karya Dimas. Namun ternyata, sepanjang saya membaca buku ini, sejenak saya memekikkan “bangsat”, dan berkali-kali pula saya empaskan buku tipis ini ke sofa. Tiga kata: segar, personal, cadas!

Melalui “Pencurian Terbesar Abad Ini”, akhirnya saya menemukan kembali karya penulis Indonesia yang mewakili keresahan saya yang sebelumnya seolah-olah mustahil saya menemukannya kembali, bahkan dari penulis senior macam Pak Sapardi maupun Pak Seno Gumira Ajidarma.

Sukar untuk mengelaborasikan kebangsatannya Dimas, bagaimana, ya, sebentar, saya coba pilin-pilin dulu kebencian sekaligus keirian saya terhadap Dimas, kenapa kok dia bisa bikin karya terbarunya dengan sebegini keren. Parameter karya keren menurut saya adalah karya tersebut seolah-olah mudah untuk diduplikasi orang yang sedang belajar menulis, tetapi setelah dicoba, ternyata mustahil untuk ditiru, lantaran jika si peniru sesembrono demikian, sampai mati pun si peniru bakalan didaulat sebagai pengekor dan pembebek karyanya Dimas.

Salah satu “kebangsatan” Dimas terdapat di halaman 21, berjudul “Aku Berjanji Esok Akan Jadi Orang yang Lebih Baik”.

Dalam puisi itu, Dimas mengumpulkan semacam daftar referensi link-link artikel di internet yang kemungkinan di-googling setiap harinya oleh manusia seusia dia; seputar kegalauan manusia yang sudah tergolong sebagai dewasa muda (young adult).

Keresahan manusia dewasa muda tentu sudah tidak sama dengan anak kuliahan. Keresahan kami sudah mulai bercampur aduk, berkisar quarter life crisis, siklus setan pekerjaan sehari-hari yang jauh lebih bosan dari diksi bosan itu sendiri, sehingga kita setiap hari mengecek lowongan kerja yang dirasa bakal mendatangkan nasib lebih baik secara karier maupun personal di situs penyedia kerja populer, mengubek-ubek situs jual beli rumah bekas di bawah 400 juta, kekhawatiran menghadapi penyakit-penyakit orangtua yang perlahan mulai muncul di tubuh kita jelang gerbang usia 30 tahun, bertanya ke mesin pencari perihal bagaimana menjadi orangtua yang baik, dan pada akhirnya kita mencari pelarian tercepat dari gunungan keresahan-keresahan manusia dewasa muda barusan dengan bertandang ke situs porno.

Selepas membaca puisi itu, hingga detik ini, saya merasa tak lagi sendirian menghadapi keresahan yang saya hadapi sehari-hari tiga tahun belakangan.

Jujur saja, setiap hari saya menemukan kejanggalan-kejanggalan yang seolah-olah dianggap peristiwa biasa saja di sekitar saya, di kota saya, bahkan di negara yang masih saja saya cintai ini. Tapi itu menguap begitu saja, sebab sehari-hari otak sudah penat berpikir di tempat kerja minimal 8 jam tiap hari, sampai-sampai saya pun tak sanggup untuk mengungkapkannya.

Sementara itu, teman, rekan kerja, saudara, orangtua, apalagi mertua, saya rasa takkan pernah mengerti apa-apa yang sedang bergulat di benak. Kalaupun terpaksa saya katakan pada mereka, paling-paling responsnya bakalan termuntahkan melalui kata-kata berikut ini: “Sabar…”; “Saya sih udah biasa, ya, kamu kurang pengalaman aja”; “Dijalanin aja”; “Dibawa asik aja kali, hidup gak usah dibawa serius melulu”; hingga “Halah, itu mah udah bukan masalah bagi gue, keciiiil, masalah gue jauh lebih berat dari lo, cemen”.

Saya merasa harus berterima kasih kepada Adimas Immanuel yang telah berjasa besar menjadi notulen atas pergumulan rapat keresahan-keresahan di benak saya tiga tahun belakangan, dan dengan murah hati merekamnya dengan indah dalam karya ini. Sekali lagi, terima kasih.[]

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store