Kedalaman dalam Kesederhanaan Yandy Laurens

Image for post
Image for post
Cuplikan webseries “Sore: Istri dari Masa Depan”

Sebagian pekarya saya amati banyak yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk berkutat mengejar respek dari orang-orang yang mereka kagumi demi pengakuan. Kemampuan-kemampuan teknis, ide-ide njlimet, isu-isu sosial yang seksi untuk digoreng jadi karya adiluhung, kerap jadi senjata andalan yang mereka bubuhkan dalam karya-karya baru.

Bahkan para pekarya yang egosentris itu terpaksa mengorbankan penggemar karya awal mereka; kalangan seperti saya yang hanya ingin menikmati karya seperti sensasi kami dalam menikmati karya pertamanya.

Namun hal tersebut tidak berlaku bagi sutradara yang sedang hangat-hangatnya dibincangkan dua tahun belakangan — terutama melalui beberapa webseries-nya, setidaknya itulah yang saya rasakan dari karya-karya Yandy.

Ringan, terkadang receh, menyenangkan, dalam, ya, di waktu bersamaan sangat dalam menyentuh hati penikmatnya, khususnya saya.

Dua tahun lalu saya ngubek-ngubek film pendek pertama Yandy berjudul “Badminton” yang menjadi pemenang di kompetisi film pendek HelloFest 2009. Ide, plot, dan eksekusi film pendek tersebut membuat saya ingin berkata kotor saking kagumnya terhadap elaborasi Yandy yang sangat minimalis namun efeknya begitu memuaskan orgasme kreativitas di otak saya.

Kemudian “Wan An”; film pendek Yandy berikutnya yang jadi pemenang kompetisi film pendek di 2013. Usai menonton, “Brengsek, bahaya bener nih sutradara”, pikir saya saat itu.

Dengan spektrum cerita dan penokohan yang tidak begitu luas alias— selalu — minimalis, Yandy piawai dalam meracik konflik dari premis sederhana yang berasal dari perkataan neneknya sebelum tidur: “Gimana ya kalau setelah tidur malam ini, besok pagi nenek tidak bangun-bangun lagi?”

What the f*ck, ungkapan itu sih kurang lebih pernah dikatain juga sama nenek, bahkan ibu saya sendiri, tapi kok ya saya gak pernah kepikiran untuk mengelaborasinya menjadi sebuah cerita atau film yang dapat dinikmati banyak orang, dan menjadi juara di festival pula! Hanya individu yang punya kepekaan tingkat tinggi yang bisa memetik ungkapan sehari-hari orang sekitarnya menjadi sebuah premis yang orisinal sekaligus mahal.

Yandy tidak berhenti di medium film pendek. Sejak 2016an, saya lihat ia mulai menggarap beberapa webseries mulai dari “Sore: Istri dari Masa Depan”, “Mengakhiri Cinta dalam 3 Episode”, hingga “Janji”.

Esensi dari setiap webseries yang Yandy kreasi kurang lebih masih sejalan dengan misi dalam film pendek Yandy: sederhana tapi dalam makna. Saya yang biasanya apatis dengan produk fiksi genre fantasi — jangan tanya saya suka Harry Potter, tentu saja tidak — sebab saya pikir sebuah karya yang baik haruslah dekat dengan kenyataan, pun turut menikmati ketiga webseries di atas, yang berhasil mengawinkan fantasi dengan drama romantis.

Yang perlu dicetaktebali: ketiga webseries di atas merupakan konten komersial dari beberapa brand, sehingga dalam prosesnya, Yandy pasti menghadapi banyak kompromi dan penyesuaian dengan stakeholder masing-masing brand, tetapi hasilnya halus, tidak terasa seperti tayangan komersial lain yang menonjolkan persuasi kasar semata.

Tulisan ini kalau tidak saya cukupi sampai di sini, akan penuh dengan puja-puji semata untuk Yandy. Sebenarnya saya hanya ingin mengucap: terima kasih.[]

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store