Didi Kempot: Legenda yang Karyanya Dirayakan Tiga Generasi

Image for post
Image for post

Pada suatu ketika di pertengahan tahun 2019, saya menemukan lagu Cidro dan Sewu Kutho tiba-tiba muncul di trending Youtube. Saya klik video tersebut, almarhum Didi Kempot tampil bernyanyi di hadapan anak-anak muda kinyis-kinyis, yang usianya terpaut jauh darinya.

Deretan lagu-lagu Didi Kempot yang sampai sekarang kalau kepengin mendengarkannya saya harus pakai headset karena malu dirisak orang lain; istri, ponakan, teman, rekan kerja, ataupun tetangga, mendadak dirayakan dengan suka cita oleh anak muda urban Jakarta yang sehari-sehari biasa mendengarkan Billie Eilish.

Seketika saya heran, kok bisa kawula muda gaul yang kumisnya dipilin rapi, jenggot brewok menggemaskan, rambut tertata rapi karena setiap bulan rajin ke barber shop, dan anak muda yang setiap harinya telaten mengusung lifestyle minimalis namun budget maksimalis itu bisa-bisanya ngefans sama Didi Kempot yang jujur saja, selama ini yang saya tangkap begitu lekat dengan citra kampungan; ndeso; musik rakyat jelata?

Ternyata, musik, dan mungkin bentuk karya seni lain, kembali membuktikan satu hal: selama gagasan karyanya kuat, meski dibuat dan dirilis pada masa lampau, kreator beserta karyanya akan abadi dan tetap relevan sepanjang zaman, menerabas generasi.

Tiba-tiba anak-anak generasi centennials kelahiran 2000an ke atas bersenandung dan joget bersama idolanya, sesekali berteriak sambil menangis haru mendengarkan sang idola sukses menyuarakan isi hati mereka seputar tumbuh dewasa di perantauan yang lebih banyak pahitnya ketimbang hedonnya, dan juga sukses mengutik memori patah hati ketika ditinggal pujaan hati mereka di kampung yang selingkuh lantaran tak sabar menunggunya sukses di perantauan.

Barangkali sekarang, kita semua semakin patah hati menyaksikan Sang Legenda perlahan meninggalkan Stasiun Balapan menuju Stasiun Kahyangan, mangkat menuju destinasi abadi yang jauh, lebih jauh jaraknya dari Sewu Kutho yang pernah ia jajaki.[]

Pertama kali diunggah di feed Instagram saya @keluarrumahpodcast. Diterbitkan kembali di blog ini secara utuh.

Written by

Menulis tentang media sosial, desain, dan budaya pop. Desainer Grafis di linktr.ee/keluarrumah. Pengasuh Keluar Rumah Podcast; bit.ly/keluarrumah

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store