Image for post
Image for post

Sering sekali saya mendengar pendapat bahwa lagu cinta adalah lagu cemen. Lagu cengeng. Mendengarkannya bukanlah kegiatan produktif, takkan berfaedah sama sekali terhadap kemaslahatan alam marcapada. Seharusnya lagu itu tidak cinta melulu, kata Efek Rumah Kaca.

Memang, lagu yang ngepop tak pernah jauh-jauh dari tema cinta-cintaan; mengisah sejoli duduk dua-duaan di taman, pulang kencan pertama berlatar tirai gerimis, menerabasnya dengan proteksi sebentang jaket menggelimuni keduanya. Diakhiri pelukan dan kecupan.

Demikian contoh formula lagu jatuh cinta yang mirip satu sama lain. Namun sepertinya jauh lebih banyak lagu tentang patah hati daripada jatuh cinta, dan lagu bertema semacam ini senantiasa laku di pasaran. Pangsa pasarnya luas, mulai dari remaja belasan tahun hingga mamah-mamah muda yang baru mencecap kehidupan setelah pernikahan ternyata begitu.

Padamu, padaku, untukmu, untukku, pasti selalu ada dalam lirik lagu semacam ini. Kata-kata dalam lirik lagu dominan berimbuh dengan -mu dan -ku. Seakan hidup cuma tentang mereka berdua. Begitulah kelakuan orang yang sedang gila akan cinta.

The Beatles pada awal kemunculannya pun tidak ujug-ujug merilis lagu tentang pertanyakan tujuan hidup ala Imagine anggitan John Lennon. Sebut yang populer saja: Michele, Let it Be, Girl, Hey Jude, dan tentu Yesterday. Karya lain dari mereka taklah jauh dari bumbu-bumbu asmara yang jujur, dengan sudut pandang sesuai usia masing-masing personel pada periode saat itu.

Lagu yang sering disenandungkan di kafe dan hotel adalah Evergreen Love Songs. Mulai dari L-O-V-E dari Nat King Cole, Because You Loved Me dari Celine Dion, I Love You dari Saigon Kick, Beautiful Girl, Especially for You, Right Here Waiting for You, hingga lagu-lagu cinta yang sedang ngehits saat ini. Kafe, terlebih hotel, kemungkinan besar ditinggalkan pengunjung setia jika terlalu sering datangkan Siksa Kubur atau Karinding Attack.

Cinta adalah konflik universal. Tidak semua orang punya kegelisahan sama tentang kesenjangan sosial-ekonomi yang sangat timpang, atau sama-sama merenungi terlalu lesatnya teknologi yang barangkali kelak robot lebih cerdas kemudian berbalik menguasai manusia melalui artificial intelligent. Sependiam-pendiamnya seseorang, pasti pernah diam-diam menyukai seseorang. Secantik-cantiknya perempuan, mungkin lebih sering disakiti ketimbang dicintai sehingga kata Eka Kurniawan menjadi cantik itu luka.

Keterikatan yang sama akan suatu hal biasanya menimbulkan kebersamaan. Namun sayang nasibnya seperti solidaritas yang sering disalahgunakan orang yang punya kepentingan; saat tujuannya tercapai ia lupakan semua jargon yang pada mulanya ia doktrinkan melalui provokasi.

Adapun yang punya kepentingan di dalam ranah musik — terutama 20 tahun silam — adalah produser. Mereka terus mengeksploitasi cinta pada produk-produk mereka. Beberapa lagu cinta sekarang malah gagal hasilkan getar-getar getir namun menyenangkan itu. Seperti mi instan yang aromanya menggugah selera namun baru dibiarkan 10 menit sudah membatu, yang tidak terlalu sehat untuk dikonsumsi setiap hari.

Entahlah saya jadi harus terpaksa dengarkan lagu-lagu sebelum tahun 2005. Era sebelum digitalisasi total, ketika media kaset masih ada yang beli meski tak banyak, sudah mulai berkurang diproduksi.

Karya musisi-musisi di era tersebut selalu berhasil mengobati hati yang masih basah lukanya berkat lirik matang dan aransemen dinamis dari daya dan karsa mereka. Terkadang kita tidak harus melupakan duka, bagi saya lebih menyenangkan untuk mengakrabi luka. Lama-lama tanya, duka, dan luka pulih dengan sendirinya, mengelupaskan kenangan dan keputusan masa lalu, menyibak masa depan.

Cinta adalah senyawa adiluhung yang tidak bisa terdistraksi apa-apa selain oleh produser. Dan kita pun mesti berbaik sangka pada produser yang di tengah kejam peralihan teknologi masih setia mengikuti selera dan keinginan masyarakat dengan segala risiko rugi dan caci, tidak seperti yang mengaku wakil namun kami tak merasa terwakili.

Sampai kapan pun cinta tetap abadi sebagai produk yang akan selalu laku, meski kita sama-sama malu-malu mengonsumsinya. Mungkin cinta bukan tercipta untuk aman dibincangkan ramai-ramai. Namun tertransaksi diam-diam di dalam kamar gelap bagai candu, sabu, nafsu.[]

Bandung, 2 Juli 2016

Written by

Menulis tentang media sosial, desain, dan budaya pop. Desainer Grafis di linktr.ee/keluarrumah. Pengasuh Keluar Rumah Podcast; bit.ly/keluarrumah

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store